Bisnis.com, JAKARTA - Gas air mata merupakan senyawa kimia yang dapat membuat orang kehilangan kemampuan penglihatan untuk sementara dan iritasi pada mata, mulut, menyebabkan gangguan tenggorokan, paru-paru, serta kulit.
Beberapa kandungan yang terdapat dalam gas air mata yaitu chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), nromobenzylcyanide (CA), dibenzoxazepine (CR), dan kombinasi bahan kimia lainnya. Gas air mata sering disebut sebagai semprotan merica, fuli, semprotan capsicum, dan agen anti huru-hara.
Kekuatannya bervariasi dengan efek yang ditimbulkan bervariasi juga. Awalnya gas air mata dikembangkan untuk senjata militer namun sekarang lebih banyak digunakan untuk pembubaran massa demonstrasi. Penggunaan bahan-bahan kimia pada gas air mat aini menimbulkan bahaya untuk Kesehatan.
Kontak dengan gas air mata dapat menyebabkan iritaasi pada mata, kulit, dan pernafasan. Rasa sakit akibat gas air mata 10.000 kali lebih kuat daripada minyak dalam wasabi karena adanya kandungan chlorobenzylidenemononitrile dan dibenzoxazepine.
Beberapa dampaknya untuk Kesehatan yaitu rasa gatal, kebutaan sementara, luka bakar, pandangan kabur, pendarahan, kerusakan dan lain-lain tergantung jarak dari penembakannya.
Cara menghilangkan efek gas air mata
- Membilas mata dengan air bersih mengalir selama 10 menit, akan lebih baik apabila membilas menggunakan air garam steril (air infus).
- Hindari menggosok mata karena dapat mengaktifkan kristal gas air mata.
- Tidak mandi dengan berendam yang dapat membuat bahan kimia dari gas air mata ikut terendam.
- Mengganti pakaian yang terkontaminasi dan memisahkan pakaian yang terkena gas air mata saat mencucinya.
Sementara itu, dilansir dari Antara, dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) membagikan kiat untuk memulihkan kondisi kulit setelah terpapar gas air mata pada demo yang terjadi beberapa waktu terakhir.
"Gas air mata memang dapat menyebabkan iritasi dan peradangan kulit, terutama bila terpapar berulang. Pemulihan bisa cepat bila ringan, namun bisa lebih lama jika ada luka," kata anggota Perdoski dr. Arini Astasari Widodo, SM, Sp.DVE, FINSDV.
Arini menekankan langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah membersihkan kulit segera mungkin dengan menggunakan air mengalir dalam jumlah banyak. Jangan menggunakan air bersuhu panas, cukup air biasa atau air dengan suhu ruang.
Selain itu pastikan kelembaban kulit tetap terjaga. Setelah membersihkan kulit, segera gunakan pelembab yang mempunyai tekstur lembut. Jenis pelembab yang disarankan pun mengandung ceramide, petrolatum, atau lidah buaya (aloe vera) untuk memperbaiki lapisan kulit.
Cara berikutnya, segera melepaskan pakaian yang terkontaminasi untuk mencegah terjadinya paparan ulang dari zat-zat yang terkandung dalam gas air mata. Bagi masyarakat ada yang mengalami iritasi, sebisa mungkin hindari untuk menggosok area tersebut supaya tidak memperparah kondisi kulit.
"Jika ada luka atau iritasi berat, dapat diberikan krim untuk meredakan inflamasi. Penggunaan kortikosteroid topikal ringan seperti hydrocortisone bisa sesuai anjuran dokter," katanya.
Menurutnya, waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan kulit bergantung pada keparahan iritasi. Bila iritasi termasuk ringan, biasanya membaik dalam satu sampai tiga hari setelah tidak ada paparan lagi.
Jika terjadi dermatitis lebih berat atau ada luka, proses penyembuhan bisa memakan waktu satu hingga dua minggu, tergantung kondisi kulit masing-masing.
Arini juga menganjurkan masyarakat untuk menghindari penggunaan zat-zat yang berpotensi menimbulkan iritan kembali setelah mencuci muka seperti pasta gigi.
Sebab, penggunaan pasta gigi atau odol di bawah mata tidak direkomendasikan karena mengandung menthol, fluoride, dan detergen justru dapat memperparah iritasi, menyebabkan dermatitis, bahkan luka bakar kimia.
"Jadi, penggunaan odol tidak aman dan sebaiknya dihindari," ujar Arini.
Hal lain yang Arini tekankan yakni gas air mata mengandung sejumlah senyawa berbahaya seperti chlorobenzylidene malononitrile (CS) atau chloroacetophenone (CN), yang akan bekerja sebagai iritan kuat pada mata, kulit, dan saluran napas.
Efek yang terjadi pada kulit jika terkena kandungan zat berbahaya tersebut yakni kulit akan mengalami kemerahan, rasa panas seperti terbakar, gatal, dan kadang muncul dermatitis kontak iritan atau bahkan luka melepuh pada paparan berat atau berulang, tergantung jumlah paparan.
"Jika terkena berturut-turut tiga hari, kulit akan mengalami akumulasi iritasi. Risiko peradangan lebih berat, luka terbuka, dan infeksi sekunder lebih tinggi," kata dia.