Bisnis.com, JAKARTA - Penyakit kusta masih menjadi salah satu penyakit yang mengintai di Indonesia. Meskipun tingkat kasus barunya terus menurun, diharapkan penyakit ini bisa dihilangkan sepenuhnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sampai dengan Februari 2025 terdapat 13.380 kasus kusta baru di Indonesia. Sebanyak 4.930 kasus terjadi pada perempuan dan 1.257 kasus terjadi pada anak.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Ina Agustina Isturini mengatakan bahwa kendati telah mencapai prevalensi
"Eliminasi penyakit ini terkendala stigma sosial, diskriminasi, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan," ujarnya dalam Media Briefing di Jakarta, Kamis (27/2/2025).
Padahal, Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sri Linuwih Menaldi mengatakan bahwa penyakit ini bisa diobati, bahkan bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan gratis dari puskesmas.
"Masalahnya, terkadang penyakit ini dikenal muncul dengan 1000 rupa, di mana tanda-tandanya mirip dengan penyakit lain," ungkapnya.
Penyebab Kusta
Prof. Sri mengungkapkan, kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae, yng sejenis dengan TBC. Namun, penyakit ini menyerang saraf tepi, kulit, mata, dan organ tubuh lainnya.
Berbeda dengan bakteri atau virus lainnya yang memiliki masa inkubasi singkat, bakteri penyebab kusta memiliki masa inkubasi 3-5 tahun.
Penyakit ini bisa menginfeksi siapa saja, mulai dari anak-anak hingga lansia. Adapun, penularan terjadi melalui droplet seperti halnya penyakit batuk pilek.
"Namun, kalau kita terpapar tidak selalu menjadi sakit kusta. Biasanya, orang terdekat penderita kusta, seperti anak atau suami dan istri akan tertular kusta karena sering kontak dekat dalam waktu lama dan panjang," jelasnya.
Gejala Kusta
Dikenal dengan penyakit "The Great Imitator", gejala kusta mirip dengan beberapa penyakit kulit lainnya. Kusta menimbulkan gejala seperti berikut:
• Bercak putih atau kemerahan yang mati rasa
• Benjolan dengan ukuran kecil dan besar di kulit wajah atau tubuh lainnya seperti lengan dan tungkai yang sewarna dengan warna kulit
• Saraf tepi seperti di bagian leher atau tungkai akan menonjol dan teraba dan mati rasa di sekitarnya.
• Ditemukan bakteri tahan asam (BTA) pada saat biopsi atau pengambilan jaringan kulit.
"Ini bisa mirip biduran, panu, eksim atau psoriasis, bahkan jerawat. Tapi ini bisa dibedakan karena biasanya permukaan kulit yang bercak akan mati rasa. Atau jika benjolan seperti jerawat tidak semakin parah atau tidak sembuh sendiri," paparnya.
Adapun, terkait dengan mitos bahwa penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan turun temurun, Sri menegaskan bahwa anggapan tersebut salah dan hanya mitos.
"Beberapa obat yang bisa didapatkan antara lain Rifampisin, Dapson/DDS, dan Klofamizin/Lampren. Ini bisa didapatkan gratis di puskesmas," ungkapnya.
Dia juga menegaskan, apabila merasakan gejala yang umum seperti bercak dan mati rasa, agar segera mendapatkan pengobatan, agar tidak terjadi komplikasi penyakit selanjutnya, yang bisa menyebabkan kelumpuhan pada tangan, kaki, dan mata.